Kecewa Dengan Sikapmu

Standar

“Ayo kita ke puskesmas” kata Ibu padaku. Aku hanya memberi kode dengan menundukkan kepalaku.

Pagi ini matahari baru mulai menampakkan dirinya. Suara burung menghiasi pagi ini. Pemandangan negeriku masih hidup, hijau dan masih sangat-sangat indah. Banyak orang yang kulihat mulai pergi, beranjak dari rumah mereka masing-masing. Mengadu nasib tentunya bagi bapak-bapak itu. Beberapa orang teman sebayaku telah bersiap menimba ilmu, berpakaian rapi putih biru. “maaf kawan tampaknya Aku hari ini tidak bisa pergi dengan kalian, ada urusan penting di puskesmas” kataku pelan pada Adam teman sebayaku. Dia hanya mengangguk-anguk dan di iringgi kata-kata “ok kawan, nanti kan kuberi tau padamu apa yang kudapatkan” ucapnya, yang mulai menjauh dariku.

Pagi ini Aku harus pergi ke Puskesmas. Sebuah penyaakit membuatku harus pergi ke sana. Kakiku yang patah dulu kembali kambuh, merusak semua aktivitas ku di kemaren hari. Sudah lama memang kakiku tak sakit lagi. Sebuah kisah di subuh hari menjadi awal dari rusaknya semua mimpiku dulu. Kaki sebelah kananku hancur karena sebuah mobil yang tak bertanggung jawab. Apalah itu semuanya tak bisa lagi ku putar. Kalaupun bisa di putar Aku tak ingin ke jadian itu menimpaku, ataupun jika itu menimpaku Aku ingin orang itu tak pergi kabur melarikan diri.

***

Adam seorang teman yang sangat baik padaku. Ibunya memang telah lama pergi, Ayahnya juga begitu. Hampir sama sepertiku kedua orang tuanya menjadi korban tabrak lari. Adam mulai hidup mandiri dan Diapun sekarang tinggal bersama neneknya yang berada persis di samping rumahku. Adam anak yang sangat hebat menurutku. Sebab ku bilang dia hebat karena dia bisa hidup tegar tampa orang tuannya.

Beda denganku walaupun Aku masih memiliki semuannya, terkadang Aku sedih ketika melihat, membayangkan kalau Aku tak punya orang tua. Aku tak sanggup, Aku tak bisa dan Aku tak mau. Jika kedua orang tuaku pergi meninggalkanku selamannya.

***

“Mas ayo kita pergi ke puskesmas” ucap Ibu yang sudah siap untuk pergi. “Ayo bu” jawabku dengan lembut. Orang-orang bilang sih, Aku ini Anak manja. Udah sebesar ini tapi masih saja manja. Bukan tampa alasan Aku seperti ini, bukan tampa sebab Aku seperti ini. Aku seperti ini karena Aku anak satu-satunya. Dan perlu kalian tau juga bukan Aku yang manja tapi memang orang tuaku yang ingi selalu dekat denganku.

***

Lima belas menit, akhirnya Aku sampai di depan puskesmas yang kutuju. Kakiku mulai melangkah masuk kedalam puskesmas ini. Belum lagi jam 7.30 tapi sudah banyak orang-orang yang mengantri. Satu, Dua , tiga.. .. ah sudah banyak sekali orang mengantri di sini. Aku yang menganggap, kalau Aku yang datang pertama ternya sudah di dahului oleh orang yang sama membutuhkannya denganku.

Beberapa orang yang memakai seragam, sedang berbaris. Seorang pemimpin, memberikan arahan kepada orang-orang yang berseragam itu. “Dokternya sedang mengambil janji, janji untuk melakukan yang terbaik pada para pasiennya” ucap ibu dengan suara pelan padaku.

Sebelah kananku, disitulah orang menunggu nomor antriannya di panggil. Banyak ruangan yang kulihat, gigi, anak, ibu hamil dan masih banyak lagi. Beberapa anak kecil sedang berlarian, senang tampak di wajahnya. Aku binggung kenapa anak kecil itu selalu bersenang, bangga dan tak ada perasaan sedih di wajahnya. “kamu itu sakit dek, jangan lari-lari”ucapku seraya memegangnya salah seorang diantara mereka. Ibu mereka hanya melihat, dan tersenyum ke arahku.

“pasien nomor urut 19” ucap resepsionisnya. “akhirnya, yo mas” ucap ibu padaku. Lama. Sudah hampir sejam kami menunggu. Baru sekarang kami di panggil “sungguh mengecewakaan” ucapku dalam hati.

“Pak anak saya kakinya kambuh lagi nih” ucap Ibu pada dokternya. Dokter masih tetap memeriksa apa yang terjadi pada tulang kakiku ini. “buk tampaknya kami tidak bisa berbuat apa-apa, kaki anak ibu sudah parah” ucapnya dengan wajah yang kurang percaya. “jadi apa yang perlu kami lakukan” tanya ibu pada Dokter itu. “Tampaknya Ibu harus membawa anak ibu ke rumah sakit” ucapnya sambil menyerahkan sebuah kertas. “ini obat yang harus ibu ambil” ucapnya lagi.

Kami segera keluar dari ruangan itu. memberikan kertas itu ke tempat mengambil obat. Sudah banyak orang yang duduk mengantri untuk menunggu obat. Jam dinding itu masih saja berputar, berjalan melewati masa. “Zaid” resepsionisnya. Ibu langsung mengambil dan mengajak segera mengajakku pulang.

“Dokter aneh!” ucap Ibu padaku dengan wajah yang agak kesal. Memang aneh sih, kami ke situ untuk berobat, untuk menghilangkan rasa sakit ini. 2 jam kami disitu, menunggu dan menyia-nyiakan waktu. Tapi, apa yang kami dapatkan.

Itu bukan janjinya seoraang dokter, mereka akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya tapi apa yang kurasakan. Hanya mendapatkan penjelasan kecil dan beberapa butir obat. Dan ini obat apa pula? Tak ada penjelasan sedikitpun.

Abal-abal semuanya abal-abal tak ada keseriusan dari dokter itu. Tak apa kalau aku sendiri yang di kecewakan, tapi kalau banyak pasien yang di kecewakan!

Oke Aku ingin maju. Menyadarkan semua dokter untuk melakukan yang terbaik, dan itu mungkin janji mereka.

Bogor

30/ Mei/ 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s