Aku dan Hidupku.

Standar

Aku ingin mereka tau bertapa susahnya Aku mendapatkan ilmu-ilmu yang berterbangan itu.

Orang tua menjadi semangat dan akan menjadi awan pelindung hidupku.

Sudah dua minggu Aku bersekolah. Sekarang seragamku sudah berubah, yang awalnya putih merah sekarang jadi putih biru. Mendapatkan predikat nilai yang sangat memuaskan ketika tamat dari bangku SD. Walaupun mendapatkan predikkat nilai yang sangat memuaskan tapi itu semua tak membantuku untuk melanjutkan sekolah dengan gratis.

Aku hanyalah anak pedalaman! yang tinggal di dalam hutan belantara. Jarak rumahku ke kecamatan sangatlah jauh kami harus melewati sungai yang sangat besar. Harus melewati jalanan yang sangat kecil dan sangatlah becek ketika terjadi hujan. Semak-semak itulah teman yang akan mengantarkan Aku ke sebelah sungai. Tidak sampai disitu perjuangan Aku untuk sekolah masihlah panjang, sekitar dua kilo meter lagi barulah Aku sampai disekolah.

Aku sangat kasihan dengan ayah. Sudah enam tahun Aku sekolah dan selama itulah Ayah selalu mengendongku melewati sungai besar itu. Aku tak sanggup berjalan sendiri karena kekurangan yang terdapat dikaki kananku. Sekarang ayah yang sudah sangat tua, tulang-tulangnya sudah jelas, kaki kirinya yang dulu pernah patah, sudah sakit kembali. Beberapa kali Ibu selalu menasehati ayah supaya beristirahat, sebanyak itulah jugalah ayah menolak untuk beristirahat. Ayah sangat ingin Aku bersekolah dan menjadi pembahagia Ibu nantinya.

Sekarang Aku sudah semakin besar. Kaki kananku sudah bisa di bawa berjalan walaupun masih tertatih-tatih. Aku tidak mau Ayah mengendongku lagi ke sekolah. Ayah sudah sangat tua, tidak akan mau seorang anak membiarkan orang tuanya tersiksa karena ingin menyekolahkannya.

Matahri menyapaku di balik pepohonan yang rindang itu. Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah! Aku sekarang sengaja berangkat lebih awal karena Ayah sedang saikit. Aku tidak mau memaksakaan Ayah untuk mengantarku ke sekolah yang jauh itu, apalagi kalau Ayah mengendongku, sekarang Aku sudah tak sanggup lagi melihat Ayah yang telah tua mengendongku ke sekolah.

Sudah beberapa menit Aku berjalan. Tampaknya kakiku masih bersabat dan semoga kakiku ini bersahabat hinga pulang nanti. Gesekan angin dengan dedaunan membuatku sangat senang, suara merdu yang di hasilkannya, membuat telunggaku bangga mendengarkannya. Aku tau kalau angin dan daun akan setia mengantarku hingga sekolah nanti. Tepi sungai sudah jelas nampak oleh bola mataku, warna air yang sedikit kecoklatan akan mengiringgi perjalanan ke sekolah kali ini.

Perahu penyebrang sudah menunggu dan sekaranglah saatnya aku menyebrang.

Air sungai membawaku keseberang walaupun sebenarnya dia mengajakku untuk pergi bersamanya. Maaf sunggai aku tidak bisa ikut dengan kau, Aku harus membuat orangtua ku bahagia terlebih dahulu dan setelah itu baru Aku ikut dengan kau.

***

Hari ini tak banyak yang bisa ku perbuat. walaupun banyak waktu luang. Aku harus sadar akan apa yang harus kulakukan, tak mungkin aku hanya menunggu hasil dari jerih payah orang tuaku. Setidaknya tawaran dari salah seorang guruku bisa kuambil.

***

Sepulang sekolah! Aku segera mungkin pulang, cuaca yang mendung membuatku takut. Karena jika air sungai menguap Aku tak bisa pulang. Untung ketika Aku sampai di tepi sungai masih ada perahu penyebrangan dan air sungai belum menguap.

Sampai di seberang sungai Aku segera mungkin lari menuju rumah yang masih jauh di dalam hutan sana. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit dan akhirnya Aku sampai di rumah. Ku lihat ayah masih terbaring lemah di atas tempat tidur yang beralaskan kasur-kasur yang sudah hancur itu. Ku lihat ibu masih sibuk memasak, Aku segera menganti baju dan mendekat ke ibu seraya berkata, “Bu! Aku ditawari salah seorang guru untuk bekerja sambilan sekolah”. Ibu tersentak dan wajah ibu yang kurang percaya telihat jelas di mataku.

“bukannya ibu tidak mengizinkan, tapi ibu tak mau kamu berpisah dengan ibu” kalimat itu cukup meyakinkan untukku kalau ibu sangat khawatir akan keadaanku.

Aku tak mungkin membantah, mungkin kata-kata ini yang akan membantuku “RIDHONYA ALLAH TERGANTUNG PADA RIDHONYA ORANG TUA, MURKANYA ALLAH TERGANTUNG PADA MURKANNYA ORANG TUA” mungkin jika ibu tidak ridho Aku bekerja dan meninggalkan ibunya. Cukup Aku tinggal disini dan Aku masih bisa sekolah walaupun harus melewati semak-semak itu, dan pasti orang tuaku ridho dan semoga ini awal keberhasilan dari perjalanan pedidikanku ini.

Aku ingin menjadi presiden, Aku ingin jadi Politikus dan Aku ingin menjadi orang yang membanggakan orang tuaku. Cinta, kerja keras dan semangat ku gabungkan semuannya, semua yang ku miliki, akan ku keluarkan. Demi cintaku pada Ibuku.

***

“Buk Aku akan melakukan apapun demi Ibu” bisikku pada Ibu. Ibu tersenyum, air mata mulai keluar dari mata, senyum, sedih dan bangga terlihat jelas dari wajahnnya.

Bogor, Jawa Barat

04/Mei/2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s